Jakarta Tabloidguntur.com - Kursi kosong Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang ditinggal
Andi Mallarangeng, membuat panggung politik menjadi heboh. Hibuk
terutama bersumber dari internal partai koalisi. Kode-kode politik itu
diluncurkan ke publik, dengan harapan direspon sang Presiden.
Sejumlah partai koalisi mewacanakan beberapa nama untuk dijagokan
menjadi Menpora. Dari kubu Golkar muncul nama Priyo Budi Santoso dan
Idrus Marham. Lucunya, Idrus yang dijagokan oleh Sekretaris Fraksi
Partai Golkar Ade Komarudin, malah mengusulkan Priyo, yang menjabat
Ketua DPP Partai Golkar.Namun Priyo, dengan gaya diplomatis, mengatakan bahwa soal siapa
pengganti Menpora merupakan hak prerogatif presiden.
"Kita biarkan
presiden memilih dari parpol atau profesional boleh, utamakan dari
Partai Demokrat," katanya.
Priyo malah menampik usulan dari dari rekan partainya agar ia
menduduki pos tawaran sebagai Menpora.Priyo juga meminta agar partainya
tak menyodorkan nama pengganti Andi Mallarangeng.Sedangkan dari kubu koalisasi lainnya, juga mencuat sejumlah nama.
Seperti di PKB, yang melontarkab nama Abdul Malik Haramaian. Mantan
Ketua Umum PB PMII ini juga disebut sebagai representasi PKB, dan
menjadi kuda hitam sebagai Menpora pengganti Andi Mallarangeng.
Kalangan
internal PKB menilai, masuknya Malik Haramain dapat menjadi jembatan
pemerintah dengan kalangan aktivis muda NU.Sementara itu PKS, PAN dan PPP sampai saat ini tak turut serta
menyorongkan kadernya untuk menjadi nominator pengganti Andi. "Itu
merupakan hak prerogatif presiden. Kita tidak mendorong dan
menghalang-halangi," begitu alasan Arwani Thomafi, Ketua DPP PPP.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman menanggapi
munculnya nama-nama kandidat Menpora itu dengan gaya diplomasi. Menurut
Hayono, idealnya pos Menpora diisi kader Partai Demokrat.
"Secara etika,
Menpora adalah jatah Partai Demokrat. Namun secara politik bisa saja
rotasi," kata Hayono.
Dia menilai, menjelang Pemilu 2014 pemerintah harus fokus dalam
bekerja. Menteri dari kalangan partai politik, kata Hayono, merupakan
pimpinan partai politik. "Saya mendukung, di akhir jabatan SBY, beliau
harus sukses, dibantu oleh menteri yang fokus dalan bekerja, bukan yang
membebani," ujar anggota Komisi I DPR ini.
Secara tersirat, Hayono lebih merekomendasi pengganti Andi berasal
dari kalangan profesional. Hal itu sejalan dengan keinginan PDIP,
seperti ditegaskan oleh diungkapkan oleh Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo.
Menurutnya, banyak persoalan di Kementerian Pemuda dan Olahraga yang
harus segera dituntaskan. Karena itu, kata Tjahyo, dibutuhkan menteri
dari profesional, bukan dari orang partai yang kemungkinan bakal semakin
memperkeruh situasi.
“Alangkah bijaknya tidak diisi orang parpol, tokoh profesional yang
masih netral dan taat serta patuh pada kebijakan presiden. Tapi
kesemuanya terpulang pada prerogatif presiden,” ujar Tjahjo saat
dihubungi, di Jakarta.
Tjahyo menilai, posisi menpora bukan suatu institusi yang menjadi
prioritas. “Memang olahraga penting, tapi kan sudah di back up KONI,
kepemudaan/kemahasiswaan juga masuk bagian Diknas. Kantor Kemenpora
hanya dalam posisi koordinator,” ujarnya.
Nah, harapan Tjahyo itu disambut oleh kalangan organisasi massa, yang
juga menginkan Menpora dari profesional. Salah satunya adalah Mathla'ul
Anwar, seperti ditegaskan oleh Ketua Umimnya, KH Ahmad Syadeli Karim.
“Menpora selayaknya berasal dari kalangan profesional agar semua masalah
Pemuda dan Olahraga diselesaikan tanpa muatan politis,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan oleh Geis Chalifah, aktifis Pemuda Al-Irsyad
dan Mercy. Dengan Menteri dari kalangan profesional, menurut Geis,
urusan pemuda dan olahraga tidak direcoki oleh para aktor di panggung
politik. “Kalangan pemuda perlu menteri yang amanah dan profesional,”
tegasnya.
Beberapa nama yang muncul dari kalangan profesional antara lain
pengusaha muda Sandiaga Uno, mantan direktur utama LKBN Antara Ahmad
Mukhlis Yusuf, dan tokoh basket Azrul Ananda. Sandiaga dikenal sebagai
pengusaha muda pemegang saham mayoritas grup Recapital. Sandi juga
dikenal sebagai penggemar basket dan olahragawan. Ia sering mengikuti
lomba marathon di sejumlah kota di dunia, dan tercatat sebagai salah
satu pelari yang membawa obor pada Olimpiade London 2012.
Sedangkan Azrul Ananda adalah penerus estafet grup perusahaan milik
Menteri BUMN Dahlan Iskan, baik di bidang media maupun sektor energi.
Ananda adalah pencetus kompetisi liga basket untuk kalangan mahasiswa
dan pelajar.
Sedangkan Mukhlis Yusuf adalah profesional muda yang berhasil
mengembangkan LKBN Antara menjadi kantor berita yang independen dan
mandiri, baik dari sisi pemberitaan maupun manajemen bisnis. Menurut KH
Syadeli Karim, Mukhlis cukup layak menduduki jabatan Menpora lantaran
terbukti selama memimpin LKBN Antara, Mukhlis dipandang sebagai orang
yang independen dan kredibel.
Geis Chalifah menilai, Mukhlis adalah sosok yang konsisten,
profesional dan amanah. “Beliau juga mengerti aspirasi kalangan muda dan
diterima oleh semua kalangan,” ungkapnya. Nama Mukhlis, menurut Geis,
tidak saja diakui oleh berbagai kalangan di Indonesia, tapi juga sudah
mendunia. Ia mencontohkan, Mukhlis pernah menjadi Presiden Organisasi
Kantor Berita Asia Pasifik (OANA). Di bidang olahraga, Mukhlis pernah
menjadi pengurus Perbasi Pusat.
Kini tinggal presiden SBY yang menentukan sikap. Sebab, meski
berbagai kalangan mengincar jabatan bergengsi itu, ujung-ujungnya
presiden lah yang menentukan siapa paling layak menjadi pembantunya. [HP]
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !